Kamis, 17 April 2008 di 19.04 | 1 komentar  


JUMAT, 18 April 2008 hari ini, saya membaca berita di Harian Kompas mengenai dwitarung pecatur muda Filipina, GM Wesley Barbasa So melawan pecatur harapan Indonesia, GM Susanto Megaranto. Pada Jumat 4 Januari 2008 lalu, tulisan saya mengenai profil So dimuat Kompas, yang saya muat kembali di bawah ini:


Bakat Alam Antar So Raih GM Termuda
Oleh Pepih Nugraha

DARI mana asal negara grand master atau GM catur termuda di dunia saat ini? Jawaban umum tentu dari Rusia atau negara-negara pecahannya. Keliru. Bukan pula dari Norwegia yang punya "anak ajaib" Magnus Carlsen, atau dari China dan India. Ia justru berasal dari negara tetangga, Filipina!

Dialah Wesley Barbasa So, yang melengkapi norma GM terakhirnya saat meraih remis berharga melawan pecatur nomor satu Iran, GM Ehsam Ghaem Maghami, pada babak terakhir turnamen Pichay Open di Manila, Filipina, 7 Desember 2007. Pada turnamen internasional itu, So, kelahiran 9 Oktober 1993, menoreh sejarah sebagai pecatur ketujuh termuda di dunia.

"Masayang-masaya po ako. Magandang pamasko na ito sa akin," kata So dalam bahasa Tagalog saat ia dipastikan meraih GM, yang artinya: Aku sangatberbahagia (dengan gelar GM), ini hadiah Natal yang indah buatku.

Hal yang mencengangkan, ia meraih gelar tertinggi dalam permainan olah-pikir itu saat berumur 14 tahun, 1 bulan, dan 28 hari. Memang dia tidak memecahkan rekor pecatur Ukraina, Sergey Karjakin, yang meraih GM pada usia 12 tahun. Akan tetapi, Filipina layak berbangga dengan prestasi para pecaturnya. Dua bulan sebelumnya, negeri di utara Provinsi Sulawesi Utara ini melahirkan GM lain, Darwin Laylo, pemuda berusia 27 tahun.

So tercatat sebagai pecatur ke-8 Filipina yang meraih GM setelah Eugene Torre, pecatur Filipina pertama yang meraih GM pada tahun 1974, disusul almarhum Rosendo Balinas (1976), Rogelio Antonio Jr (1998), Buenaventura "Bong" Villamayor (2000), Nelson Mariano (2004), Mark Paragua (2005), dan Darwin Laylo (2007).

Pecatur Filipina yang menjadi kolumnis dan analis, IM Rodolfo Tan Cardoso menggambarkan So sebagai "Bocah Renaisans Catur Filipina". Sebagai sesama pecatur, Cardoso punya kesan mendalam saat So bermain catur di sebuah turnamen. Katanya, So punya naluri "membunuh" raja lawan.

"Ia tidak ragu mengorbankan menterinya, sebagai buah yang paling berharga, sekadar merebut ruang gerak yang masih jauh dari kalkulasi menuju kematian raja lawan," tuturnya.

Tidak heran, saat berusia 9 tahun, So sudah menjuarai turnamen kelompok umur 14 tahun di negerinya. Pada usia 13 tahun ia juara nasional kelompok usia 20 tahun. Permainannya yang super-agresif dan liar memaksa lawan mana pun berpikir keras. Salah satu yang menjadi korbannya adalah pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto, yang dia kalahkan pada sebuah turnamen di Singapura akhir tahun 2006.

Tahun 2005 adalah terobosan bagi So. Saat itu, untuk pertama kalinya, FIDE, organisasi catur dunia, mengumumkan peringkat Elo-nya. Bulan Juli pada tahun yang sama, ia menjadi juara dunia kelompok usia 12 tahun. So jauh meninggalkan pecatur-pecatur lain yang lebih dulu meraih GM, seperti Parimarjan Negi dari India dan GMW Hou Yi Fan asal China.

Prestasi So pada tahun berikutnya malah lebih mengesankan. Dia membuat rekor sebagai pecatur termuda yang lolos kualifikasi mewakili negaranya pada Olimpiade Catur di Turin, Italia, saat berusia 12 tahun. Hasilnya pun mengesankan. Ia meraih master internasional sebelum merayakan ulang tahunnya yangke-13. Akhir tahun 2006 So meraih norma GM pertamanya di Bad Wiessee, Jerman, dan menang atas pecatur kuat Rusia, GM Pruskin.

Tanpa pelatih

Tidak seperti umumnya GM lain yang lahir karena gemblengan pelatih khusus, anak Filipina ini hanya mengandalkan bakat alamnya, sama seperti pecatur Tanah Air, GM Cerdas Barus, yang sosoknya kini hilang bagai ditelan Bumi. So harus belajar di sekolah menengah dan tidak ada satu sponsor pun yang sudi membiayai turnamen-turnamen yang dia ikuti.

Ia hanya mengandalkan keuletannya bermain dan mendedikasikan waktunya empat jamsehari khusus belajar catur. Dia belajar sendiri. Karena tidak punya pelatih, ia "berguru" pada program komputer catur Fritz sebelum bertarung. Jalan menuju GM tak mudah bagi So. Seharusnya ia bisa melengkapi norma GM-nya pada usia 13 tahun, tetapi kalah dari GM Belov pada babak terakhir sebuah turnamen di Manila. Ia juga gagal meraih setengah angka penting pada turnamen Zona 3.3 di Vietnam.

Dia menjuarai sejumlah turnamen di Iran, Singapura, dan Armenia. Namun, itu pun tidak cukup buat melengkapi gelarnya meski di Armenia ia berhasil mengalahkan pecatur harapan Inggris, David Howell.

Melejitnya So di kancah caturdunia mengulang masa keemasan catur Filipina saat mantan Presiden FIDE asal Filipina, Florencio Campomanes, merajai catur regional dan internasional dalam kurun waktu 1950-1970. Tahun 1978 Filipina menjadi sorotan dunia saat duel Anatoly Karpov versus Victor Korchnoi digelar di Baguio City.

Bahkan, 20 tahun sebelum China melahirkan para GM dengan subur, Filipina sudah punya pecatur legendaris GM Eugene Torre, yang tercatat sebagai GM Asia pertama! Saat itu Filipina juga punya pecatur kuat, GM Rosendro Balinas. Juara dunia catur Viswanathan Anand tidak menyangkal kalau ia belajar dari Torre dan Campomanes lewat program televisi saat Anand mengikuti ayahnya bertugas di Filipina. Tentu yang paling bangga dengan prestasi So adalah orangtuanya, William (sang ayah) dan Eleanor So (sang ibu).

"Saya pernah mengajarinya catur saat ia berusia enam tahun," ucap William yang pernah menjadi sopir bus sekolah. "Sekarang So maju pesat karena bermain catur dengan penuh dedikasi dan benar-benar mencintai permainan ini," tambah William sebagaimana dikutip harian setempat, Star.

"Ini mimpi yang menjadi kenyataan buat Wesley," kata Eleanor tentang anak kedua dari tiga anaknya. "Kami merasa senang karena doa kami dikabulkan. Kami sangat berterima kasih, kerja keras dan dedikasinya untuk catur berbuah penghargaan."

Meski So sudah meraih gelar GM, sang Ibu tetap menghendaki anaknya menjalani kehidupan "normal" sebagaimana remaja seusianya. Selain itu, ia juga berharap ada pelatih lanjutan untuk lebih mengasah kemampuan So bermain catur.

Bagi So, menjadi juara dunia sebagaimana harapan setiap pecatur bisa jadi masih jauh. Namun, setidaknya modal dasar untuk menuju ke sana sudah di genggamannya.
Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , ,
Selasa, 22 Januari 2008 di 18.53 | 0 komentar  

Bobby Fischer Meninggal

REYKJAVIK, JUMAT- Juara dunia catur tahun 1972 asal Amerika Serikat, Robert James Fischer, meningal dunia di Reyjavik, Islandia, Jumat waktu setempat atau Sabtu (19/1) WIB. Pecatur paling eksentrik berusia 64 tahun ini meninggal di kota dimana ia menjadi juara dunia, Reykjavik, akibat penyakit yang dideritanya.

Fischer mendobrak dominasi catur Uni Soviet (US) saat ia menggulingkan pecatur US Boris Spassky 12,5 lawan 8,5 dalam sebuah dwitarung yang dijuluki “Duel Abad Ini”. Dwitarung menjadi sorotan dunia dikala “Perang Dingin” antara AS-US sedang berada pada puncaknya.
AS dan sekutunya mewakili Barat, sedangkan US dan antek-anteknya mewakili Timur. Fischer mewakili Barat, sementara Spassky mewakili Timur. Pers menyamakan dwitarung terhebat abad ini sebagai perang di atas 64 petak catur.

Fischer yang meraih mahkota juara dunia catur paling bergengsi kala itu berusia 29 tahun. Ia melaju setelah mengalahkan lawan-lawannya di catur kandidat dengan skor menyolok, misalnya mengandaskan pecatur US yang juga pianis Mark Taimanov dan pecatur Denmark Bent Larsen dengan skor 6-0 tanpa balas untuk keduanya.

Sementara, Spassky menjadi juara dunia setelah merebut gelar itu dari rekan senegaranya Tigran Petrosian di tahun 1969. Tahun 1971 Petrosin masih berharap rematch lawan Spassky. Tetapi di semifinal catur kandidat, Fischer menggilasnya 6,5 lawan 2,5. Jadilah pertarungan final dwitarung di Reykjavik itu antara Spassky lawan Fischer.

Tahun 1975 Fischer kehilangan mahkota juara dunianya saat menolak tanding melawan bintang baru Rusia, Anatoly Karpov. Karpov meraih mahkota itu tanpa berkeringat dan mempertahankannya sampai 1985 sebelum ia ditumbangkan pecatur US lainnya, Garry Kasparov. Karpov sempat mempertahankan mahkotanya dua kali saat melawan pecatur US lainnya, Victor Korchnoi di Baguio City (Filipina) dan Merano (Italia).

Saat usia menjelang tua, Fischer menyatakan berhenti catur dan hidup dari royalti buku-bukunya dan paten jam catur Fischer yang diciptakannya. “Fischer Clock” adalah jam catur yang bisa menambah waktu (incremental) setiap kali pecatur melangkahkan buahnya.

Tahun 1992, Fischer melakukan dwitarung ulang lawan musuh lamanya Spassky di Negara yang sedang dihujat dunia, Yugoslavia, di saat AS menerapkan sanksi terhadap Presiden Slobodan Milosevic. Tahun 2004 Fischer sempat ditangkap di Bandara Narita, Jepang, karena menyalahgunakan paspor dan terancam dikembalikan ke AS. Islandia akhirnya memberi Fischer kewarganegaraan.

Spassky yang kini menjadi warga negara Perancis berkomentar pendek atas kematian lawannya itu. “Saya sangat bersedih, tetapi Fischer telah mati, selamat tinggal,” katanya seperti dikutip kantor berita AP. (PEPIH NUGRAHA)
Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , , ,
Sabtu, 12 Januari 2008 di 15.03 | 0 komentar  

Mengalahkan GM Ardiansyah

TERUS terang, sampai menjelang kuliah tahun 1984, aku sama sekali tidak tertarik dengan permainan catur. Bagiku waktu itu, hanya orang-orang malas dan tidak punya pekerjaan saja yang main catur!

Adalah mendiang ibuku, Ny Enok Suhayah, yang “memperkenalkan” permainan ini, meski hanya sebatas kata-kata. Itu terjadi tahun 1976, saat aku sekolah di kelas 5 SD Ciawi I, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ibu dengan bangga memperkenalkan, katanya saudara-saudara sepupuku lainnya di Garut, semuanya jago-jago catur. Bahkan senior-seniornya yang sudah duduk di ITB, Unpad, maupun AMN, tidak ada yang tidak jago main catur. Tapi ibu tidak juga membelikanku papan catur, dan aku hanya bisa membayangkan salah satu bentuk bidak catur paling eksentrik: kuda.

Masih duduk di kelas enam SD, tahun 1977, ada seorang teman pindahan dari SD lainnya, namanya Mamat. Aku biasa memanggilnya ‘Gan Mamat karena dia anak mantan Camat, tapi masih terbilang saudaraku, karena salah satu anak mantan camat itu nikah dengan paman dari pihak ayahku. Mamat ini memperkenalkan sekaligus “menyombongkan” dirinya sebagai juara catur antar-SD di kecamatannya yang lama. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana hebatnya anak ini.

Tetapi tatkala ada waktu luang saat kenaikan kelas tiba (ke SMP), Mamat menjajal kemampuan caturnya dengan Dadan Hamdani, teman sekelasku juga. Di luar dugaan, Mamat dilumat 2-0! Aku kagum sama Dadan yang tidak pernah berkoar-koar, tetapi mampu menaklukkan juara catur kecamatan. Baru aku tahu belakangan, Dadan dan juga Asep Dedi, juga teman sekelasku, sering ber-sparring partner di kampungnya, Sukamantri. Bahkan Dadan pulalah yang mengajariku notasi catur aljabar, meski waktu itu kutangkap sebagai sekadar tahu saja.

Beberapa pekan sebelumnya, aku diperkenalkan main catur sama Mang Usman, ayah Ratih (Ayi), tetapi hanya sekadar mengenal langkah-langkah dasar bidak saja. Ketika mencoba dengan gagah-gagahan melawan Asep Dedi, jelas saja aku dilumat dalam partai pendek, entah berapa kosong.

SMP dan SMA lewat begitu saja tanpa catur. SMP lagi senang-senangnya belajar karena harus mengejar ketertinggalan. SMA lagi seneng-senangnya pacaran. Hemmm… gini-gini juga ternyata pacar-pacarnya manis-manis (sepengggal kenangan manis maupun pahit, yang suatu saat kutulis juga).

Waktu gagal kuliah di universitas negeri dan harus ngendon setahun di IKOPIN, tahun 1984, juga belum begitu tertarik catur kendati orang-orang seasrama seperti Dadang dan Iman, kerap bermain catur di ruang tamu, juga anak-anak kos main dengan Dede Uron yang punya asrama.

Momen itu terjadi pada 1985. Saat itu di Bola ada pelajaran catur dasar dari Lugito Hayadi. Dia merupakan juara nasional catur surat. Orang keturunan China, tetapi hebat dalam memberikan pelajaran. Sebelumnya, berbekal pelajaran notasi dari Dadan, aku sudah mulai mempraktikkan permainan ini di atas papan catur dari rubrik catur Kompas, yang juga ditulis Lugito Hayadi, Bola waktu itu menjadi suplemen Kompas. Papan catur, waktu itu malah adikku, Dadang, yang membeli.

Baru kemudian aku jatuh cinta abis sama catur dan mampu belajar secara cepat langkah-langkah, pertahanan, serangan, pembukaan berikut varian-variannya. Mungkin kalau saja mendiang ibu memperkanalkan catur sejak bayi, barangkali aku sudah dan masih tercatat sebagai juara dunia hahaha… Tapi sudahlah, tak perlu sesali masa lalu.

Waktu kuliah di Unpad, yang menjadi sparring partner adalah Erpan Faryadi, teman sekelasku yang orang Bangka Belitung. Mulanya aku selalu kalah, belakangangan aku yang selalu menang. Ada juga tetangga lain di kost-kost-an Bang… aku lupa namanya, dia dari Medan. Kami saling mengalahkan. Dia pernah berkomentar, “Wah, langkah-langkahmu di luar dugaan, Pep.”

Erpan orangnya sportif, kalau kalah dia akan kasih selamat. Tetapi dia juga lucu, kalau terserang atau kepepet, wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus. Biasa, kami ditemani kopi panas dan tape singkong saat bertanding. Di radio FM biasanya berkumandang lagu “Hello”-nya Lionel Richie, “No More Lonely Night”-nya Sir Paul McCartney, atau “Percayalah Kasih”-nya Trio Iwan Fals-Vina Panduwinata-Yoky Suryoprayogo.

Waktu itu tahun 1986, saya ketemu seseorang yang kelak menjadi ikon catur Indonesia: Utut Adianto. Dia waktu itu sudah semester lima di FISIP Hubungan Internasional. Ketemu hanya berpasasan, dia pakai celana jeans putih plus T-shirt. Saya kenal dia dari foto-fotonya, waktu itu dia sudah juara nasional, tetapi belum bergelar Grandmaster. Nanti kuceritakan pertemuan berikutnya dengan Utut, setelah aku menulit tentangnya di Harian Kompas……

Baru kemudian aku tahu bahwa aku lumayan berbakat. Buktinya mampu mengalahkan GM Ardiansyah dalam sebuah pertandingan simultan yang hanya diikuti 38 karyawan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Itu terjadi pada 10 September 1994, saat aku sudah empat tahun bekerja di Kompas dan siap-siap mengikuti pendidikan wartawan selama satu tahun sepanjang tahun 1995.

Berikut jalannya partai GM Ardiansyah (putih) melawan Pepih Nugraha (hitam) dalam sebuah partai simultan:

1. d4 g6 2. c4 Gg7 3. Kc3 Kf6 4. Kf3 c6 5. e4 d6 6. Ge2 h6 7. 0-0 Kd7 8. h3 Kf8 9. e5 dxe5 10. Kxe5 Gd7 11. c5 Kd5 12. Kxd5 cxd5 13. Gf4 Ke6 14. Gg3 0-0 15. Gg4 f5 16. Gf3 f4 17. Gh2 Gxe5 18. dxe5 Gc6 19. Bc1 Kg5 20. Be1 e6 21. b4 a6 22. a4 Rg7 23. h4 Kxf3+ 24. Mxf3 Mxh4 25. Ba1 Bf5 26. g3 fxg3 27. Gxg3 Mxb4 28. Me3 Bf8 29. Bd1 Bf3 30. Mc1 Mg4 31. Bd2 Bf5 32. Ba3 d4 33. Md1 Kh3. Putih menyerah.

(Tidak ada obat mujarab untuk menghindarkan mat. Jika… 34. Bxf6, maka 34. … Gxf3! Putih hanya dapat menyelamatkan diri dari ancaman mat di h1 jika mengorbankan menterinya untuk ditukar dengan gajah).

Dari 38 pecatur lokal KKG, hanya sembilan orang yang mampu meraih kemenangan, salah satunya adalah kemenanganku dengan kemenangan tercepat. Makanya saat pemberian hadiah, aku dapat dua penghargaan: sebagai orang yang mampu mengalahkan GM Ardiansyah dan mampu mengalahkan paling cepat GM tersebut. Mengesankan.

Sumber: Blog Beranda Tempat Berbagi di http://www.pepihnugraha.com/, upload September 2006.







Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , , ,
Sabtu, 29 Desember 2007 di 17.37 | 0 komentar  


Victor Korchnoi

Legenda Hidup dalam Dunia Catur

DI atas bumi ini hanya ada dua pemain catur lanjut usia, Mark Taimanov (75) dan Victor Korchnoi (70), yang masih bermain. Keduanya dari Rusia yang dulu bernama Uni Soviet. Bedanya, Taimanov jarang ambil bagian dalam turnamen bergengsi-dan kalau pun ambil bagian prestasinya tidak pernah bagus-tetapi Korchnoi dalam usia lanjutnya itu masih bermain di sejumlah turnamen bergengsi dengan prestasi bagus. Bahkan beberapa kali juara. Pemain sepuh lain seangkatannya seperti Bent Larsen dan Boris Spassky, hanya sesekali tampil dalam turnamen. Si jenius Bobby Fischer malah sudah nyaris tak terdengar.

Tanggal 23 Maret lalu, tepat di hari jadinya yang ke-70, sebuah turnamen catur digelar di Saint-Petersburg, Rusia. Turnamen dimaksudkan untuk menghargai dedikasi Korchnoi terhadap permainan asah otak ini diikuti Korchnoi bersama lima grandmaster. Hebatnya, Korchnoi menjadi juara kedua bersama Rublevsky, juara pertama Konstantin Sakaev.

Di turnamen inilah dua sesepuh catur, Taimanov dan Korchnoi, saling menguji ketangkasan bermanuver. Hasilnya imbang. Di kota ini pula, April 1999 Korchnoi yang saat itu berusia 68 dipertemukan dengan Spassky, 63 tahun, dalam sebuah dwitarung 10 partai. Korchnoi membungkam mantan juara dunia yang kini hijrah ke Perancis dengan skor 6:4.

Berbicara tentang pria kelahiran Leningrad 23 Maret 1931 ini, ingatan tidak bisa lepas dari bayangan musuh bebuyutannya, Anatoly Karpov, yang juga sama-sama dari Rusia. Bedanya, Korchnoi sebuah pribadi pemberontak dan kontroversial. Dia tidak tunduk pada hasrat penguasa yang meminta "mengalah" dalam suatu pertandingan, yang di Uni Soviet merupakan hal yang lumrah.

Karena ulahnya itu, otoritas catur Soviet menekannya habis-habisan, yang membuatnya memilih hengkang dari tanah kelahirannya untuk pindah ke Swiss tahun 1976. Sedang Karpov yang dikenal memiliki pribadi sempurna, merupakan anak emas karena kepatuhannya kepada negara tanpa reserve. Selain tentu saja karena prestasinya yang memang sangat cemerlang saat itu.

Pemberontakan sekaligus pelarian Korchnoi menggambarkan betapa negara, dalam hal ini penguasa Uni Soviet, telah menelikung kebebasan warga negara sedemikian rupa hanya karena pertimbangan sepele: pilih kasih. Mereka yang melawan otoritas ditindas, sedang yang patuh apalagi berprestasi diperhatikan dengan baik. Maka melarikan diri menjadi pilihan terbaiknya, meski anak dan istrinya harus menerima tekanan dan intimidasi luar biasa penguasa komunis. Tetapi di Baguio City, Filipina, Korchnoi justru harus bertarung melawan Karpov. Saat itu Korchnoi boleh dibilang tidak muda lagi, 47 tahun, sedangkan lawannya 20 tahun lebih muda.
***

DALAM dwitarung di negeri Ferdinand Marcos inilah kontroversial dan jiwa berontaknya muncul. Lebih-lebih karena musuh yang dihadapinya memiliki ideologi yang jauh berbeda darinya. Bagaimana, misalnya masalah bendera, kursi, sampai papan catur menjadi benda-benda yang nyaris membuat dwitarung yang akhirnya terselenggara 18 Juli sampai 17 Oktober 1978 itu batal secara konyol. Korchnoi ingin bermain di bawah bendera Swiss, tetapi Karpov menolak karena sang lawan belum memegang paspor negeri arloji itu. Alhasil, baru kali itulah kejuaraan dunia catur berlangsung tanpa bendera di atas meja.

Lainnya, Korchnoi ngotot ingin menggunakan kursi putar miliknya, dan Karpov baru mengizinkan setelah kursi itu disinar-X di sebuah rumah sakit ternama di Baguio City. Karpov khawatir dalam kursi itu terdapat alat elektronik tersembunyi yang memungkinkan lawannya "berkomunikasi" dengan orang lain di luar pertandingan. Belum lagi tudingan kedua belah pihak yang menggunakan parapsikologi atau tukang sihir yang konon bisa mengacaukan pikiran.

Untuk berhadapan dengan Karpov, Korchnoi harus mengatasi para empu catur yang kala itu didominasi Uni Soviet dalam turnamen kandidat. Dua mantan juara dunia, Tigran Petrosian dan Spassky, dan kemudian Lev Polugaevsky, dilumatnya habis. Tetapi dalam dwitarung selama tiga bulan dengan memainkan 32 partai itu Korchnoi menyerah 5:6. Korchnoi merangkak lagi dalam pertandingan kandidat berikutnya, dan berhasil. Lagi-lagi lawan yang harus dipatahkannya ialah Karpov. Dan dalam rematch di Merano, Italia, tahun 1981, Korchnoi dilibas Karpov 6:2 dengan remis 10 kali.

Korchnoi yang fasih bahasa Rusia, Jerman, dan Inggris disebut-sebut sebagai legenda hidup dalam dunia catur. Dialah satu-satunya pecatur yang ikut turnamen kandidat mencari penantang juara dunia sampai delapan kali dan dua kali berhasil menjadi penantang. Empat kali Korchnoi menjadi juara nasional Uni Soviet. Saat di mana permainan bidak di atas 64 kotak dikuasai para pemain Uni Soviet, ada adagium yang mengatakan, menjadi juara Uni Soviet praktis menjadi juara dunia. Tetapi dalam perjalanannya menuju tangga juara dunia, dia dua kali dihabisi si anak emas Soviet itu. Tetapi dwitarung di Baguio City, dunia catur mengenalnya sebagai pertarungan yang tak terlupakan, the unforgettable battle.
***

KORCHNOI membuka mata pencinta dan pemerhati catur tatkala pada tahun 1968, pada usia yang sebenarnya tergolong tua untuk ukuran catur, 37 tahun, menghajar sejumlah grandmaster super dalam turnamen Las Palmas. Dia unggul 3,5 angka penuh, termasuk mengungguli Spassky yang setahun kemudian menjadi juara dunia. Tahun 1994 dalam turnamen di Ostrava, Moravia, Korchnoi yang kala itu berusia 63 tahun menjadi juara, unggul satu angka penuh dari saingan terberatnya yang rata-rata tentu masih muda. Belum lagi si gaek ini menjadi juara di turnamen San Fransisco dan sebuah turnamen yang diselenggarakan di Madrid, Spanyol.

Korchnoi sesungguhnya terlambat mengenal catur, yakni usia 11. Terlambat kalau dibanding dengan Gary Kasparov, Karpov, Viswanathan Anand, atau Vladimir Kramnik, yang sudah mengenal catur pada usia dini di bawah enam tahun. Meski baru mengenal catur saat usianya 11, namun 13 tahun kemudian Korchnoi menjadi juara Leningrad.

Sampai awal Januari lalu, Korchnoi telah memainkan 3.825 partai. Selama karir profesionalnya itu, dia membukukan kemenangan sebanyak 1.613, remis 1601, dan kalah 611. Musuh-musuhnya mengenang Korchnoi sebagai pemain yang matang mengkalkulasi varian dan sempurna dalam permainan akhir. Pecatur eksentrik asal Rusia Vassily Ivanchuk pernah mengagumi gaya permainan Korchnoi. Dia mengaku telah mempelajari secara mendalam seluruh partai yang pernah dimainkannya di tahun 1960-an. "Tetapi saya selalu mengalahkannya," katanya.

Alexander Geller, pecatur yang menjadi wasit Internasional mengenang Korchnoi akan kekukuhan sikapnya. Korchnoi kini telah kembali ke kota kelahirannya. Tetapi dia tahu persis, dirinya tidak sedang mengikuti naluri gajah, di mana menjelang ajal tiba selalu berupaya kembali ke tempat di mana dia dilahirkan. Seperti yang pernah dikatakannya, dia akan terus bermain dan bermain terus sampai akhirnya benar-benar tidak bisa bermain lagi. (Pepih Nugraha)
Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , , , ,

Vladimir Kramnik

Mengukuhkan Ramalan Gurunya


BILA saja tahu apa yang bakal terjadi, mestinya jura dunia catur Garry Kasparov menyesal telah meramal Vladimir Kramnik (25), salah seorang muridnya bakal menggantikan kedudukannya sebagai juara dunia. Ramalan Kasparov mengemuka saat berlangsung Olimpiade Catur di Manila, Filipina, tahun 1992. Saat itu Kramnik, anggota tim termuda sepanjang sejarah keikutsertaan Rusia dalam gelanggang olimpiade catur, meraih angka 8,5 dari sembilan babak atau hanya sekali remis. Delapan tahun kemudian, tepatnya di London, Inggris, ramalan sang guru menjadi kenyataan.

Pada partai ke-15 dari 16 partai yang direncanakan setelah Kramnik unggul 8:6 atau dua angka penuh, Kasparov menawarkan remis pada langkah ke-38. Tawaran berharga itu tidak disia-siakan Kramnik yang langsung menerimanya. Peristiwa yang terjadi pada 2 November lalu itu -partai pertama dimainkan 8 Oktober 2000- menjadikan skor 8,5:6,5 untuk keunggulan sang juara dunia baru. Partai ke-16 yang tidak berpengaruh lagi, tidak dimainkan. Panitia menetapkan, siapa yang meraih angka 8,5 lebih dahulu, dialah pemenangnya. Sedang bila beakhir seri 8:8, mahkota juara tetap bertengger di kepala Kasparov.

Sesaat sebelum partai pertama dimulai, sejumlah analis catur mempertanyakan kursi yang diduduki Kramnik. Mestinya, kata seorang analis catur, tempat terhormat itu diduduki Alexei Shirov, maestro catur asal Rusia yang kini mengibarkan bendera Spanyol. Cukup beralasan, sebab pada kejuaraan serupa versi Dewan Catur Dunia di Cazorla tahun 1998, Shirov melu-mat Kramnik dua kosong dengan skor 5,5:3,5. Namun Braingames.net, situs khusus permainan asah otak yang menyeponsori dwitarung dengan total hadiah dua juta dollar AS (Rp 18 milyar) ini melihat pertimbangan lain dengan menghadirkan Kramnik.

Selain menduduki peringkat kedua setelah Kasparov dengan peringkat FIDE 2770 dan PCA 2749 (Kasparov dengan peringkat FIDE 2849, PCA 2824), dari 80 pertandingan terakhir yang dimainkannya sejak Juli 2000, Kramnik belum pernah terkalahkan. Skornya juga imbang lawan Kasparov. Sekadar perbandingan, jago India Viswanathan "Vishy" Anand hanya membukukan tiga kali kemenangan melawan Kasparov dengan 18 kali kalah.

Di London, Kramnik membuktikan dialah yang pantas menghadapi Kasparov dan bahkan kemudian melumatnya dengan skor dua kosong tanpa balas. Skor sebelum keduanya bertanding adalah 3:3 dari 23 pertemuan. Kramnik pertama kali mengalahkan Kasparov di Linares tahun 1994. Pada tahun yang sama di Novgorod, Kasparov membalasnya. Dua tahun kemudian di Amsterdam, Kasparov unggul dalam perebutan angka, tetapi pada tahun yang sama di Dos Hermanas, Kramnik membalasnya. Kejadian Linares terulang tahun 1997, tetapi giliran Kasparov mengalahkannya. Kramnik lantas menyamakan kedudukan menjadi 3:3 di Novgorod pada tahun sama. Dengan tambahan 15 partai yang dimainkan, dari 38 pertandingan Kramnik unggul 5:3 atas Kasparov.

***

INILAH kemenangan spektakuler juara dunia baru. Belum pernah sekali pun terjadi dalam sejarah kejuaran dunia dalam format witarung klasik seorang juara bertahan tumbang tanpa mampu memetik angka. Selain merenggut mahkota catur yang telah bertengger di kepala Kasparov selama 15 tahun, Kramniklah yang membuat lawannya yang dijuluki The Boss atau Gazza itu benar-benar seperti pecatur pemula. Padahal secara psikologis Kasparov diunggulkan karena sebelum pertandingan dimulai sudah "unggul" setengah angka. Sesuai karakternya yang tenang, Kramnik yang dilahirkan di kota terpencil Tuapse, salah satu kota paling selatan Laut Hitam, memiliki gaya bermain yang tenang pula. Ketenangannya bermain mirip ular sanca. Tidak heran posisional adalah gaya pilihannya di atas papan catur, persis seperti Analoty Karpov. Gayanya yang kalem sangat kontras dengan lawannya yang eksplosif dan agresif.

Dilahirkan 25 Juni 1975, sejak usia empat tahun Kramnik sudah menunjukkan bakatnya meski secara resmi tidak ada seorang pun yang mengajarinya bermain catur. Ayahnya bergerak di bidang seni, pemahat, sedangkan ibunya guru musik. Usia lima tahun dia sudah menjadi anggota perkumpulan catur yang didirikan para pecatur profesional di kotanya. Pada usia tujuh tahun ia sudah menyabet juara di antara para pecatur dewasa. Juara dunia junior pun diraihnya tidak lama kemudian. Pada usia 11 tahun, Kramnik menjadi kandidat master dan pada tahun itu pulalah dia masuk Sekolah Catur Botwinik yang didirikan juara dunia catur sebelumnya.

Bintangnya bersinar tatkala Kramnik memperkuat Rusia di Olimpiade Catur di Manila. Sebagai pemain cadangan pertama yang "terpaksa" bermain, ia menyabet 8,5 angka dari sembilan babak, atau hanya kehilangan setengah angka. Di olimpiade inilah ia menampakkan permainannya yang "dewasa", melebihi pemain dewasa lainnya, termasuk Kasparov yang teman setimnya. Pada usia 17 tahun, ia merupakan pemain termuda yang mewakili Rusia di Olimpiade Catur, dan di Manila ini pulalah Kasparov meramalkan Kramnik kelak bakal menjadi penggantinya sebagai juara catur dunia.

Pada tahun 1995 Kramnik mulai mengancam para pemain top dunia. Pada tahun itu dia menduduki peringkat tiga dunia. Setahun kemudian saat usianya mencapai 21, dia berhasil menduduki posisi puncak pemain top dunia. Kramnik dikenal sebagai pemain "catur buta" yang andal. Kehebatannya bermain tanpa melihat papan catur itu sama dengan kalau dia melihat papan catur!

Dalam menghadapi dwitarung ini, Kramnik serius dengan melakukan persiapan penuh. Tim Kramnik, para sekondan yang terdiri dari Miguel Illescas, Joel Lautier, Evgeny Bareev dengan manager Lord Rennel, termasuk juru masak, Antonio, bahu-membahu mempersiapkan Kramnik baik dari segi teknis, fisik maupun nonteknis. Sebelum turun pada partai ke-15, bersama para sekondan Kramnik menganalisa langkah yang bakal dimainkan. "Mereka hanya berhenti bekerja ketika saya sedang bertanding," demikian Kramnik mengomentari para sekondannya.

***

KRAMNIK berupaya melakukan apa pun untuk menjadi juara, termasuk berhenti merokok beberapa bulan sebelum pertandingan bersejarah itu. Enam bulan sebelum bertanding, ia menyewa pelatih fisik kenamaan yang biasa dipakai Karpov, Valery Kyrlov. Sebelum bertolak ke London, bersama Illescas dia berlatih fisik selama berminggu-minggu dengan berenang, lari, angkat berat dan voli. Tiga minggu sebelum pertandingan berlangsung, dia sudah berada di London dan mengisi hari-harinya dengan bermain tenis. Persiapan fisiknya yang berat, memberinya tenaga luar biasa saat menghadapi raksasa catur dari Baku, Kasparov.

Menjadi juara dunia adalah cita-citanya sejak ia mengenal catur. Angan-angan menjadi juara dunia menurutnya tampak ketika dirinya menyelesaikan partai ke-10 yang ia sebut sebagai momen kepastian. "Akhirnya saya tahu... itu benar-benar terjadi," katanya.

Kramnik menyebut Kasparov sebagai pemain agung dan pemain catur yang fantastis. Saat ditanya mengapa banyak pemain catur tidak bisa mengatasi Kasparov sementara Kasparov sangat sulit mengatasi dirinya, Kramnik berpendapat, banyak pemain merasakan ketakutan yang tidak perlu saat menghadapi Kasparov. "Jadi sederhana saja, untuk mengalahkan Kasparov tidak perlu takut," kata Kramnik.

Kasparov menerima kekalahan itu. Dengan sportif dia menyalaminya seraya mengatakan, "Vlad, Anda memang pantas menjadi juara dunia." (Pepih Nugraha)

Dimuat Kompas, 11 November 2001, halaman 12
Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , , , , ,

Tulisan Catur Yang Tercecer

TATKALA saya membuka-buka klipping elektronik Harian Kompas, perusahaan media massa tempat dimana saya bekerja sebagai wartawan, tidak saya sangka sebelumnya kalau tulisan saya khusus tentang catur sudah mulai dimuat Kompas edisi 11 November 2000. Jumlahnya lumayan banyak dan beragam. Tulisan catur pertama saya mengenai sosok seorang pecatur Rusia berjudul Vladimir Kramnik, Mengukuhkan Ramalan Gurunya.

Maksud saya mengumpulkan tulisan-tulisan khusus saya yang dimuat Kompas, Intisari, mungkin juga Majalah Bobo, Hai, atau malah beberapa tulisan di blog saya yang lainnya, untuk mengumpulkna tulisan-tulisan yang tercecer itu dalam sebuah blog yang bisa dibaca semua orang. Semua tentu saja yang berkaitan dengan catur, sebuah permainan yang entah mengapa saya sangat menyukainya meski saya tidak terlalu pandai memainkannya.

Khusus di Kompas, adalah berita atau tulisan mengenai catur. Di Intisari, saya pernah menulis satu-satunya artikel tentang anak-anak jenius yang merajai permainan catur. Di Majalah Bobo dan Hai, saya punya cerita pendek atau cerita bersambung yang bertema catur, yang sebaiknya saya tampilkan juga di sini.

Selain itu, di rumah saya punya sedikit koleksi papan catur yang saya kumpulkan dari berbagai negara yang saya kunjungi, daerah dan kota-kota negeri ini yang pernah saya lewati, atau sekedar menitip teman yang kebetulan bepergian. Beberapa di antaranya juga hadiah dari teman, adik, dan istri saya. Saya menyimpan koleksi papan catur itu di sebuah lemari khusus terbuat dari kaca bersusun lima, yang saya pandangi setiap hari.

Ya, itu semua karena kecintaan saya kepada seni olahpikir ini. Siapa tahu, blog tentang catur ini bermanfaat buat rekan dan sahabat yang kebetulan punya minat yang sama. Bagi saya pribadi, kehadiran blog ini untuk lebih mengingatkan kembali diri saya agar jangan lupa menulis dan menulis lagi catur, apapun cerita tentangnya.

Siapa tahu pula, kita semua dipersatukan oleh minat yang sama seperti hakikat semboyan catur dunia bahwa kita semua bersaudara, gens una sumus...
Diposkan oleh Pepih Nugraha Label: , , , ,
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum